Buah Merah

Dalam bahasa daerah kami sendiri kami sebut “Tawy” dan “Wanggene” untuk membedakan antara Pandanus Fruit yang berwarna “merah” dan yang berwarna “kuning”. Jadi keduanya bukan buah merah, tetapi buah Tawy dan buah Wanggene.

Nama sebenarnya dari Buah Ini ialah "Buah Pandan Merah" dan "Buah Pandan Kuning", yaitu Tawy dan Wanggene, bukan Buah Merah, sebuah nama yang tidak hanya keliru atan salah secara konseptual berpikir dana penamaan buah ini.

Kami tidak jual Minyak Wanggene dikarenakan belum ada izin dari para tua-tua Adat kami. Yang kami jual sekarang ialah Minyak Tawy.

Tawy adalah sejenis buah pandan yang tumbuh di Pulau New Guinea.. Nama ilmiahnyaPandanus Conoideus Lam karena tanaman Tawy termasuk tanaman keluarga pandan-pandanan dengan pohon menyerupai pandan. Tinggi tanaman dapat mencapai 16 meter dengan tinggi batang bebas cabang sendiri setinggi 5-8 m yang diperkokoh akar-akar tunjang pada batang sebelah bawah.

Kalau dilihat kultivar buah berbentuk lonjong dengan kuncup tertutup daun buah. Tawy sendiri panjang buahnya mencapai 55 cm, diameter 10-15 cm, dan bobot 2-3 kg. Warnanya saat matang berwarna merah marun terang, walau sebenarnya ada jenis tanaman ini yang berbuah berwarna coklat dan coklat kekuningan yang disebut dalam bahasa Lani sebagai Wanggene (bukan Tawy).

Pandanus Conoideus Lam ialah nama ilmiah (Latin) dari Tawy. Dalam Tok Pisin disebut Morita. Sedangkan dalam versi Melayu lebih sering dipanggil “Buah Merah”. Dari tiga nama ini tergambar jelas nama “Tawy” punya sejarah dalam budaya orang suku Lani, sementara dalam versi Tok Pisin disebut Morita. Lalu nama latin menggambarkan hubungan “Tawy” dengan suku pandan lainnya. Sementara nama “Buah merah” tidak menjelaskan rumpun atau suku dari Tawy, tetapi hanya sebatas di kulit, dari sisi warnanya saja.

Secara logika sehat, “buah merah” atau buah yang berwarna merah bukan hanya “Tawy”, tetapi banyak buah lain seperti tomat, cabe, apel, buah naga, dan lain-lain buah berwarna merah bertebaran di seluruh dunia. Buah yang berwarna merah bukan hanya “Tawy” tetapi banyak buah di dunia. Lalu logika sehat kita menjadi sulit menerima mengapa hanya “Tawy” yang diberi nama “buah merah”, mengabaikan buah-buah berwarna merah yang lain.

 Secara logika sehat pula, nama “buah merah” tidak patut diberikan kepada “Tawy” karena Tawy tidak hanya berwarna merah terang, tetapi juga ada berwarna merah gelap, dan apalagi ada yang berwarna hijau-emas (kuning hijau-emas), yang dalam bahasa Lani disebut Wanggene.

Apalagi dalam bahasa Lani kita sebut “Tawy” untuk buah Pandanus Conoideus Lam yang berwarna merah, dan “Wanggene” untuk Pandanus Conoideus Lam yang berwarna hijau-keemasan.

Jadi secara logika sehat, menyederhanakan nama “Tawy” dan “Wanggene” menjadi “Buah Merah” ialah suatu kesalahan logika yang fatal, sekaligus memalukan. Ya, memalukan pertama-tama yang memberi nama “buah merah” kepadanya, dan kedua bagi kami yang sampai hari ini masih menggunakannya.


******

Buah Merah yang sudah dikenal ampuh mengatasi berbagai penyakit ini ternyata mempunyai mitosnya sendiri. Menurut kepercayaan penduduk Suku Dhani di Memberamo, Papua, ribuan tahun yang lalu, nenek moyang mereka turun dari Gunung Pugima ke daerah Wesakpog untuk berkumpul.
Gunung Pugima, menurut mereka adalah gunung Jayawijaya yang merupakan gunung tertinggi di Indonesia dan Wesakpog adalah sebuah daerah di Lembah Baliem.

Setelah berkumpul di Wesakpog, nenek moyang orang Papua ini kemudian melanjutkan perjalanan tanpa membawa bekal dan peralatan sama sekali. Mereka kemudian menyebar ke seluruh penjuru mata angin.

Dalam perjalanan, sebagian dari mereka ada yang berhenti untuk beristirahat dan membuat api. Menurut cerita masyarakat Suku Dhani, di tempat mereka beristirahat tersebut, Sang Pencipta menurunkan peralatan berupa busur, anak panah, kapak batu, batu api, bermacam-macam tumbuhan, serta binatang piaraan.

Tumbuhan yang dimaksud di antaranya ubi dan Buah Merah. Setelah mematikkan batu api, mereka membakar ubi dan Buah Merah. Sisa Buah Merah tersebut kemudian diberikan kepada binatang piaraannya.

Di tempat beristirahat dan membuat api itulah mereka kemudian membuat perkampungan dan berkembang menjadi berbagai macam suku seperti sekarang ini.

Sementara itu, sebagian nenek moyang orang Papua terus berjalan melanjutkan perjalanan darat dan sebagian lagi menyeberangi lautan menggunakan rakit. Diduga kuat, mereka yang menyeberangi lautan ini sampai di Benua Australia dan menjadi cikal-bakal Suku Aborigin.

Hingga sekarang, Buah Merah tetap menjadi makanan sebagian penduduk Pulau Papua, terutama yang bermukim di daerah Pegunungan Jayawijaya. Oleh penduduk, Buah Merah ini dijadikan campuran makanan sehari-hari.

Mereka memeras Buah Merah setelah membakarnya dengan batu. Sari Buah Merah hasil perasan ini mereka konsumsi bersama ubi, sayuran, dan bahan makanan lain.

Dalam upacara bakar batu, Buah Merah pun menjadi elemen pokok. Upacara bakar batu biasanya dilakukan untuk mengumpulkan masyarakat, terutama dalam satu suku, ketika ada suatu acara, seperti pernikahan, hari natal, idul fitri, tahun baru, perayaan panen, menyembah leluhur, kematian, atau untuk mempererat hubungan ikatan keluarga.

Hidangan hasil upacara bakar batu tidak lengkap dan kurang nikmat jika tidak menggunakan buah yang masih satu famili dengan tanaman pandan ini.

Deskripsi Tanaman Buah Merah

Tanaman Buah Merah adalah tanaman yang masih satu famili dengan tanaman pandan. Pandanus conoideus ini di habitat aslinya (Pulau Papua) tumbuh dari dataran rendah dekat pantai sampai dataran tinggi.

Bahkan, di lereng pegunungan Jayawijaya diketinggian 2.500 m dpl. tanaman ini bisa ditemukan. Tanaman berkayu ini tumbuh bercabang sampai mempunyai 5 cabang. Daunnya berbentuk pita yang pinggirnya berduri-duri kecil.

Tinggi tanaman bisa mencapai 15 meter. Akarnya berbentuk akar udara yang menggantung sampai ketinggian satu meter dari pangkal batang. Tanaman ini berbuah saat berumur tiga tahun sejak ditanam.

Buah Merah umumnya berbentuk panjang lonjong atau agak persegi. Panjang buah 30-120 cm. Diameter buah 10-25 cm. Buah ini umumnya berwarna merah, merah kecokelatan, dan ada pula yang berwarna kuning. Kulit buah bagian luar menyerupai buah nangka.

Di Papua, beberapa daerah yang menjadi sentra Buah Merah adalah daerah-daerah yang berada di sepanjang lereng pegunungan Jayawijaya. Di antaranya Kelila, Bokondini, Karubaga, Kobakma, Kenyam, dan Pasema.

No comments:

Post a Comment

My Blog List