Tawy Sebelum dan Sesudah Temuan Ilmiah

Peran Tawy sebelum Penemuan

Buah merah di Tanah Papua dijadikan bukan sebagai “suplemen” atau “jamu” tetapi sebagai lauk yang bernilai sosial tinggi. Ada juga menjadi makanan pokok, bukan lauk lagi.

Di pegunungan Tanah Papua menempatkan posisi Tawy dan Babi sebagai produk makanan yang bernilai sosial tinggi. Contohnya kalau saya mengundang teman atau sanak-saudara untuk mengerjakan kebun saya dan sebagai imbalannya saya masak Tawy atau Babi, maka banyak orang akan datang. Akan ada cerita atau pemberitaan tersiar, “Bapak A ada undang kami kerja, dan dia masak buah merah.” Ini akan mengundang banyak orang. Itu baru satu saja nilai sosial dari Tawy buat kehidupan orang Wamena, pewaris buah surga, Tawy dan Wanggene (Buah Pandan Merah dan Buah Pandan Kuning).

Perlu diketahui bahwa orang Wamena sebenarnya menempatkan Wanggene lebih dekat dengan daging daripada buah.

Penemuan Buah Merah dan Khasiat Buah Merah bagi Kesehatan Manusia

Buah merah atau Minyak Tawy dan manfaatnya bagi kesehatan manusia dalam kaitannya dengan berbagai penyakit pertama-tama diperkenalkan oleh Bapak Made, atau nama lengkapnya  
Dr. I Made Budi, M.Sc.
Sebelum itu, ada beberapa mahasiswa yang pernah meneliti tentang Buah Merah. Salah satunya ialah mahasiswa Program Studi Kimian, FKIP, Universitas Cenderawasih, Nico Yomaki. Fokus penelitian Nico Yomaki ialah mengangkat makanan khas Papua untuk dijadikan sebagai makanan “mainstream” di Tanah Papua. Tetapi fokus penelitian Pak Made yang menjadi terobosan besar bagi kami tentang Tawy dan kesehatan manusia.

Sejak temuan Pak Made terekspose ke media dan ke seluru masyarakat, maka Minyak Tawy telah memasuki masa keemasannya, mulai awal abad ini.

Hal yang berbeda terjadi pada kami orang Wamena sendiri. Kami malahan tidak terlalu mengira kalau Buah Merah ini akhirnya akan menjadi komoditas supplement yang bernilai tinggi dan mahal pula.
Karena kami secara alamiah mengenal buah merah bukan sebagai barang dagangan, maka kami juga tidak terlalu menanggapi peluang bisnis minyak buah merah.



****

Buah Merah dan Peluang Usaha Masyarakat

Saat panen raya Buah Merah, masyarakat Papua biasanya memasak Buah Merah seperti halnya masyarakat di Pulau Jawa membuat minyak kelapa. Minyak sari Buah Merah tersebut kemudian disimpan di dalam bumbung bambu dan bisa bertahan selama satu tahun.

Cadangan minyak tersebut digunakan untuk memasak makanan, seperti halnya minyak goreng. Minyak Buah Merah ini digunakan untuk pengganti minyak goreng yang harganya di daerah pedalaman relatif mahal.

Sampai sekarang sari Buah Merah tetap digunakan oleh masyarakat Papua. Sebagian besar penduduk yang mengonsumsi Buah Merah, baik berupa pasta dalam makanan sehari-hari maupun minyaknya, jarang terkena penyakit, tubuhnya kuat, dan staminanya prima.

Kenyataan ini banyak mengundang pertanyaan masyarakat pendatang, sehingga tidak sedikit dari mereka yang mulai mencoba memanfaatkan sari Buah Merah, terutama minyaknya.

Sejak I Made Budi, salah seorang dosen di Universitas Cenderawasih Jayapura, meneliti kandungan buah ini, masyarakat pendatang ramai-ramai mengeksploitasi buah ini dari pedalaman.

Hingga saat ini hampir semua elemen masyarakat, dari yang masih berkoteka, aparat pemerintah, hingga kalangan swasta ramai-ramai terjun mengolah Buah Merah.

Tidak mengherankan bahwa Buah Merah kemudian mendapat julukan emas merah dari belantara Papua. Minyak Buah Merah hasil olahan mereka kemudian dijual sebagai obat yang banyak membantu menyembuhkan berbagai jenis penyakit, seperti HIV/AIDS, kanker/ tumor, ambeien, diabetes mellitus, asam urat, rematik, jantung koroner, paru-paru, asma, gangguan jantung dan ginjal, tekanan darah tinggi, eksim, dan herpes.

Pro, Kontra, dan Fakta Buah Merah


Sampai saat ini penelitian tentang khasiat dan manfaat sari Buah Merah untuk pengobatan masih belum selesai. Secara klinis pembuktiannya belum dilakukan. Meskipun demikian, secara empiris tidak sedikit penderita penyakit yang sudah merasakan manfaat buah ini.

Beberapa di antaranya ada yang mengonsumsi buah ini dengan mengombinasikan bersama obat dokter, ada yang mencampurnya dengan herbal lain, dan ada pula yang mengonsumsinya secara tunggal.

Fenomena ini kemudian mengundang pro dan kontra dari berbagai kalangan masyarakat. Ada yang langsung percaya dan menggunakannya untuk pengobatan, ada yang melakukan penelitian, dan ada pula yang masih ragu-ragu akan kemampuan komoditas perkebunan ini.

Bagaimana pun kontroversi yang berkembang, di lapangan tidak sedikit penderita aneka penyakit yang sembuh dengan sari Buah Merah dan akhirnya berani memberikan kesaksian akan kemampuan Pandanus conoideus ini kepada masyarakat.

No comments:

Post a Comment

My Blog List